RSS

Lebanon :Political Changes and Crisis

27 Mar

 

Lebanon :Political Changes and Crisis

“ Pengaruh Hizbullah dalam kebijakan Luar Negeri Libanon Terhadap Syria pada masa Pemerintahan Emile G. Lahoud “

I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Republik Libanon merupakan bagian dari negara Timur Tengah yang berbatasan dengan Suriah di utara dan timur, dan negara Israel di selatan. Situasi politik Libanon sangatlah sensitif yang disebabkan oleh adanya berbagai kelompok agama yang memiliki orientasi politik untuk mendominasi pemerintahan, oleh karena itu  dalam sistem politiknya Libanon menggunakan sistem Konfesionalisme[1]. Sensus resmi tidak dilakukan sejak tahun 1932, ini lah yang menandakan sensitivitas politik di Libanon terhadap keseimbangan keagamaan.[2]

Salah satu organisasi politik yang sekarang telah menjadi partai politik di negara Libanon adalah Hizbullah. Hizbullah atau Partai Tuhan adalah kelompok Islam Libanon yang terdiri dari sayap militer dan sipil  didirikan pada 18 Februari 1982 untuk memerangi pendudukan Israel di selatan Libanon. Pada awalnya Hizbullah hanyalah sebuah kelompok organisasi Islam yang tidak memiliki struktur kepemimpinan yang jelas, dan tahun 1985 Hizbullah resmi menjadi partai politik utama yang mewakili komunitas Syiah[3] di Libanon, yang dipimpin oleh Hassan Nasrallah[4], dengan berkoalisi dengan partai Amal Hizbullah berhasil meraih 23 kursi perlement di Libanon selatan.[5]

Kelompok hizbullah sangat menentang keras keberadaan invasi negara lain terhadap Libanon, Hizbullah menganut konsep bahwa lembaga eksekutif berada di bawah pengawasan ulama, mereka tidak menganut konsep organisasi politik seperti yang lazim dikenal. Hal inilah yang membedakan konsep hizbullah dengan partai, organisasi, gerakan Islam lainnya. Segala macam usaha dilakukan oleh Hizbullah untuk menghentikan aksi negara lain dalam meruntuhkan kedaulatan Libanon dan kekuatan Hizbullah yang besar dalam dunia politik di Libanon juga memiliki pengaruh  yang kuat dalam kebijakan luar negeri Libanon.

1.2.Kerangka teoritis

Politik atau kebijakan luar negeri adalah perilaku yang diwujudkan oleh suatu negara untuk menjalankan kepentingannya dalam hubungannya dengan negara lain. Analisa politik luar negeri selalu melibatkan aspek domestik dan aspek internasional seperti hubungan satu negara dengan negara lain, keadaan regional suatu negara serta keadaan dunia pada saat itu, selain itu anggapan bahwa faktor domestik seperti keadaan geografis, hubungan pemerintah dengan partai politik ataupun pemerintah dengan organisasi masyarakat sama kuatnya dengan aspek internasional dalam mempengaruhi output politik luar negeri. Kebijakan luar negeri negara berkembang lebih komplek jika dibandingan dengan model kebijakan luar negeri negara maju, faktor – faktor dalam negeri seperti keadaan ekonomi, politk, struktur sosial serta instabilitas yang terdapat didalam perumusan politik luar negeri sangat memiliki pengaruh besar.

Menurut CC Rodee[6], kebijaksanaan pengambilan keputusan luar negeri bisa kita teliti dengan mempertimbangkan : prinsip dan tujuan kebijakan, kondisi formulasi kebijakan, badan – badan yang terlibat proses perencanaan, peranan partai dan kelompong kepentingan, serta teknik dan instrument[7] yang dipakai dalam pelaksanaan kebijakan, dan jika kita melihat kepada permasalahan di negara Libanon maka Hizbullah masuk kedalam peranan partai dan kelompok kepentingan

 

II. PERMASALAHAN

Emile Geamil Lahoud merupakan mantan presiden Libanon yang berkuasa dari
24 November 1998 sampai 24 November 2007. Selama masa pemerintahan Lahoud terjadi beberapa permasalahan di Libanon baik hubungannya dengan hizbullah ataupun dengan Syria, diantaranya pembunuhan perdana Menteri Rafiq Hariri.

Libanon, Hizbullah dan Syria merupakan tiga objek kajian yang saling berhubungan satu sama lainnya, Libanon dan Syria merupakan negara tetangga yang bahkan bisa dikatakan negara yang sama, tapi hubungan itu sedikit mulai terganggu ketika Presiden Hafez al-Assad[8], tidak pernah menginjak Libanon, telah mengundang permasalahan terhadap warga Libanon, sebagian masyarakat Libanon berpikiran presiden Hafez al-Assad yang memiliki pasukan di negara Libanon tidak pernah berkunjung, karena dia tidak mengakui kedaulatannya. Begitu  juga hubungannya dengan Hizbullah, Syria merupakan salah satu negara penyokong dan pendukung aksi – aksi Hizbullah, selain Iran[9]. Tapi walaupun demikian pada masa pemerintahan presiden Lahoud yang juga pro terhadap Syria,  hubungan Hizbullah, Syria dan Libanon tidak berjalan mulus, karena hal ini menimbulkan pertanyaan seberapa jauhkah pengaruh Hizbullah dalam kebijakan luar negeri Libanon terhadap Syria pada masa pemerintahan president Lahoud?.

 

 

 

 

 

Bagan hubungan Libanon, Hizbullah dan Syria pada masa president Lahoud :

 

Libanon

Syria

Hizbullah

 

 

 

 

 

No mean straightforward.

Perang saudara

Keterlibatan negara Barat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. PEMBAHASAN

3.1.Komposisi Sistem Pemerintahan Libanon

Dari  segi politik internal Libanon, Libanon adalah negara republik yang khas dengan tiga jabatan tertinggi disediakan untuk kelompok religius yang telah ditentukan yaitu :

Presiden : Harus seorang yang beragama Kristen Katolik Maronit

Perdana Menteri : Harus seorang yang beragama Islam dari aliran Sunni[10]

Juru bicara Parlemen : Harus seorang yang beragama Islam dari aliran Syiah

Komposisi ini seharusnya tidak menjadi hambatan untuk terciptanya kedamain di negara Libanon, tapi kekuatan Hizbullah dalam melakukan penggagalan setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah menjadi sulit menciptakan perdamaian, tapi perlu kita ketahui juga, kebijakan yang tidak pro terhadap rakyatlah yang sering dikacaukan oleh Hizbullah. Seperti resolusi PBB 1701 yang menuntut diberlakukannya genjatan senjata dalam pertempuran dengan Israel tapi tidak di lakukan oleh Hizbullah. [11]

3.2.Hubungan Libanon dengan  Hizbullah

Berbicara tentang negara Timur Tengah maka kita tidak bisa lepas dari 3 persoalan yang selalu menyelimuti negara ini yaitu darah, minyak dan senjata, dikawasan Timur Tengah batasan antara perang dan damai sangat tipis dan kabur, menurut Riza Sihbudi [12] dalam tulisanya Peta Politik Timur Tengah Memasuki Abad 21 menuliskan bahwa terdapat 3 faktor yang menyebabkan Timur Tengah menjadi daerah rawan konflik yaitu :

– Karakter budaya yang sulit dilepaskan dari faktor lingkungan alam ( padang pasir yang gersang yang membuat orang – orang cendrung mudah emosi ).

– Faktor kekayaan alam ( minyak ) yang berlimpah menjadi daya tarik tersendiri bagi negara luar kawasan untuk cendrung melakukan intervensi dalam setiap persoalan internal yang terjadi.

– Kepentingan ekonomi politik Barat di Timur Tengah menjadi semakin besar dengan keberadaan negara Israel.

Sesuai dengan apa yang paparkan oleh Riza, di Libanon pun terjadi hal yang serupa, di mana semua konflik di wilayah itu terpendam secara periodik yang melibatkan Israel, Lebanon dan Syria. Sejarah Hizbullah di Libanon tidak bisa kita lepaskan dari peristiwa terjadinya perang saudara di Libanon[13], yang melibatkan lebih dari satu kelompok diantaranya Rezim Syiah, Syiria An Nashiriyah, Syiah Imamiyah dalam milisi-milisi amal dan pasukan Libanon. Aktivitas Hizbullah lebih dominan dilakukan di daerah yang mayoritas berpenduduk Syi’ah, seperti pinggiran kota selatan Beirut, daerah lembah Bekaa dan wilayah Selatan Libanon. Salah satu alasan kenapa kontrol Hizbullah atas wilayah Libanon Selatan adalah lemahnya kemampuan pemerintah Libanon yang terkoyak akibat perang saudara dan kuatnya intervensi Syria yang mendorong penguatan Hizbullah. Sehingga, Hizbullah dianggap sebagai cermin gerakan perlawanan di bagian besar dunia Arab dan Muslim dunia, prinsip yang dipakai Hizbullah adalah mematuhi perintah pemimpin yang bijaksana dan menjunjung tinggi keadilan.

Tapi berbeda dengan Imad Mansour yang mengatakan bahwa Hizbullah bukanlah bagian dari negara Libanon tapi merupakan organisasi yang memiliki kepentingan sendiri terhadap negara Libanon, memang untuk menciptakan perdamaian Libanon tetapi tidak berjuang atas nama negara Lebanon [14].

 

3.3. Pengaruh Hizbullah dalam kebijakan Luar negeri Libanon terhadap Syria.

Sebelum Prancis menguasai negara Syria, Syria dan Libanon merupakan daerah yang satu, tapi setelah tahun 1920 prancis membagi daerah ini, mulai dari sinilah konflik antara dua negara ini bermunculan[15]. Syria yang sejak dulu memiliki misi khusus terhadap Libanon yaitu, Misi Historis dan Misi Strategis[16], misi yang didasarkan. pada anggapan bahwa Libanon merupakan bagian tak terpisahkan dari negara Syria serta keinginan Syria untuk menjadikan Libanon sebagai negara penyangga (buffer state) guna membatasi serangan-serangan Israel ke Syria.

Hubungan Syria dengan Libanon  serta hubungannya dengan Hizbullah kian memburuk ketika Syria terlibat dalam perang saudara yang terjadi di Libanon, ketika posisi Kristen kian terjepit dan Islam kelihatannya bakal menang, dan jika ini terjadi Libanon akan pro terhadap Islam dan akan memancing Israel campur tangan besar-besaran, dan kalau terjadi maka itu sama sekali tidak menguntungkan Syria[17].

Keadaan ini membuat Syria melakukan manuver politik untuk mendukung kelompok Kristen Libanon. Sesuatu hal yang sulit dibayangkan, terutama karena posisi tersebut menjadikan Syria bersekutu dengan Israel untuk membantu Kristen Libanon. Padahal Syria dan Israel bermusuhan satu sama lainnya.

Presiden Lahoud dikenal dengan presiden yang dekat dengan Syria, bahkan di sinyalir Lahoud merupakan boneka Syria di Libanon untuk menjalankan aksi – aksinya, dalam merugikan lembaga-lembaga Libanon dengan mendukung pelanggaran oleh badan-badan polisi rahasia menjalankan misi pemerintahan Syria seperti peranan intelejen yang tidak memberikan keamanan, melainkan memasang agen-agen, menyadap percakapan telepon, menyebarkan artikel-artikel Koran yang menjatuhkan Libanon, mengancam para hakim, mengikat para menteri dan mengepung anggota-anggota parlemen[18]. presiden Lahoud dinilai tidak berbobot dan bertindak hanya sebagai pembantu Syria Tindakan – tindakan inilah yang membuat Hizbullah menjadi tidak menyukai presiden Lahoud.

Tapi tahun 2004 dewan keamanan PBB mengeluarkan resolusi tahun 1995 yang menegaskan kedaulatan penuh Libanon tanpa campur tangan asing, dalam menanggapi perang yang  terjadi antara Libanon dan Israel tapi ini tidak berlaku baik bagi Hizbullah ataupun Syria mereka tetap ada di sana dan kerap meluncurkan roket ke arah Israel dan tahun 2000 Hizbullah juga bergerak sebagai partai politik dan mempunyai pengaruh kuat atas pemerintahan Libanon [19].

Tahun 2005 terjadinya kasus pembunuhan perdana mentri Libanon Rafiq Hariri, Persitiwa tersebut memicu gelombang unjuk rasa besar – besaran  menentang Syria dan meminta penarikan penuh pasukan Syria dari Libanon hal ini didasarkan terhadap penyelidikan PBB yang menemukan indikasi adanya keterlibatan Syria, tetapi Syria menyangkal, begitu juga dengan Hizbullah yang mengingingkan Syria tetap ada di Libanon.

Kebijakan luar negeri Libanon terhadap Syria pada masa pemerintahan Lahoud memperlihatkan pengaruh yang kuat yang datang dari Hizbullah, seperti kita lihat dari tidak berhasilnya pemerintah menyelesaikan teka – teki dibalik pembunuhan yang terjadi pada perdana menteri Rafiq Hariri, tetap malah mendengarkan provokasi – provokasi dari negara barat untuk mengusust Hizbullah dan Syria sebagai dalang dari peristiwa ini, tapi dilemma yang dihadapi oleh Hizbullah juga membuat Hizbullah tidak berdaya menentukan sikap , selama masa pemerintahan Lahoud disinyalir hanyalah sebagai boneka Syria dalam menjalankan kepentingannya juga tidak bisa diredam Hizbullah, seharusnya Hizbullah bisa mentukan sikap dan menemukan bukti – bukti disetiap permasalahan yang melibatkan dirinya  (Hizbullah) untuk memperlihatkan kepada dunia siapa mereka sebenarnya, dan bisa menyelesaikan permasalah Libanon selalu saja menghadapi berbagai intervensi asing secara terang-terangan sehingga apapun yang terjadi di negara ini selalu saja menjadi urusan banyak negara lain, Libanon ingin menjadi bangsa yang independen tanpa intervensi negara lain, namun segelintir politisi ingin menjadi penguasa dengan cara mencari dukungan asing

 

IV. PENUTUP

4.1.Kesimpulan

Hubungan antara Libanon, Hizbullah dan Syria ketika pemerintahan presiden Lahoud seperti segitiga yang di hubungan kan dengan garis putus – putus , artinya tidak ada kejelasan yang pasti tentang hubungan ini, kita tahu bahwa Lahoud merupakan presiden yang dekat dengan Syria, begitu juga dengan Hizbullah, Syria merupakan salah satu donor dana bagi kegiatan Hizbullah. Jadi walaupun mereka saling kerjasama ataupun saling bermusuhan tapi masih ada tujuan yang tersembunyi dari hubungan ini atau bisa kita sebut dengan no mean straightforward.

4.2.Saran

Cara Libanon dalam membuat kebijkan luar negeri bisa kita lihat dari pendekatan yang mereka gunakan, semasa presiden Lahoud, teori  pengambilan kebijakan luar negeri ada yang disebut dengan structural approach yang artinya suatu kebijakan diambil dari bagaiamana sistem bekerja pada negara tersebut, teori ini dibagi menjadi 3 yaitu : formalistic structure, collegial structure dan competitive structure.

Formalistic structure artinya pendekatan dengan menjadikan presiden atau pemimpin berada pada posisi paling atas, semua kebijakan berada ditangan presiden, dalam pengambilan keputusan presiden jarang meminta saran dari para menterinya, sehingga sering terjadi bentrokan antara presiden dengan menteri – menterinya serta dengan kelompok kepentingan di negaranya.

Collegial structure merupakan pendekatan dengan menempatkan posisi presiden tidak menjadi orang nomor satu dalam pembuatan keputusan, tapi presiden membuka perundingan dengan para menteri dan kelompok kepentingan di negaranya, sedangkan competitive structure menempatkan presiden pada posisi atas, tapi membuka peluang untuk saling berebut perhatian presiden bahkan persaingan tidak sehat pun terjadi pada pendekatan ini.

Jadi jika kita merujuk pada kasus yang terjadi di negara Libanon , seharusnya presiden Lahoud menggunakan pendekatan collegial structure dalam perumusan kebijakan luar negerinya. Sehingga bentrokan antara Libanon dan Hizbullah bisa berkurang serta peluang  keterlibatan negara asing juga menjadi kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Bacaan Buku

Rodee, CC. ( 2006 ) . “Pengantar Ilmu Politik”. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Youngs ,Tim dan Claire Taylor. ( 2007 )“The crisis in Lebanon “.HOUSE OF COMMONS LIBRARY

Middle East Policy, Vol. XVII, No. 2, Summer 2010

Sihbudi, Riza   : peneliti PPW – LIPI ,ketua Ismes, ketua YIPIKA ( yayasan insane politika ) Jakarta, dan staf  pengajar di FISIP UI Depok

 

Sumber Bacaan Online

http://irul-pml.blogspot.com/2009/01/sejarah-konflik-di libanon.html?zx=d468a062c89dc1f5

Wikipedia : Libanon.

 

 

 

 


[1]. Sistem konfensionalisme merupakan sistem yang membagi kekuasaan seadilnya diantara aliran agama yang berbeda – beda.

[2]. Diambil dari Wikipedia ( 24 november 2010  jam 4 pm)

[3] Komunitas Syi’ah adalah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. Dari segi bahasa, kata Syi’ah berarti pengikut, atau kelompok atau golongan, seperti yang terdapat dalam surah al-Shâffât ayat 83 yang artinya: “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)

[4] seorang politikus Lebanon. Ia adalah sekretaris jenderal partai Hizbullah saat ini. lahir pada 31 Agustus 1960 di Beirut

[5] Middle East Policy, Vol. XVII, No. 2, Summer 2010

[6] . CC Rodee, dkk, 2006, Pengantar Ilmu Politik, PT. Raja Grafindo, Jakarta, hal 499.

[7] . alat yang dipakai untuk pengumpulan sesuatu

[8] . Mantan president Syria yang tidak pernah menginjakakn kakinya di Libanon, telah yang meninggal pada tahun 2000 ( dkutip dari pdffile :Dr. Denise Youngblood Coleman, Editor in Chief, CountryWatch.com )

[9] . Iran merupakan penganut aliran Syi’ah, Libanon menjadikan para pemimpin Syi’ah di Iran sebagai rujukan dalam masalah agama dan politik.

[10] . aliran sunni merupakan sepakat bahwa para Khalifah Yang Empat (khulafaur-rasyidin) adalah sah, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib

[11] .Dikutip dari Middle East Policy, Vol. XVII, No. 2, Summer 2010

[12] Drs. Riza Sihbudi merupakan peneliti PPW – LIPI ,ketua Ismes, ketua YIPIKA ( yayasan insane politika ) Jakarta, dan staf  pengajar di FISIP UI Depok. Bab 3 hal : 22

[13] Perang saudara terjadi pada April 1975, yang terjadi antara islam dan Kristen serta banyaknya warga Palestina di Libanon.

[14] Dikutip dari Middle East Policy, Vol. XVII, No. 2, Summer 2010

[16] Keinginan Syria dilihat dari segi sejarah dan strategi, dimana dulu Syria dan Libanon merupakan Negara yang bersatu dan juga strategis karena bias dijadikan banteng pertahan terhadap serangan Israel.

[17] Karena Syria tidak mengingnkan campur tangan Israel di negara Libanon.

[18] Dikutip dari pdffile :Dr. Denise Youngblood Coleman, Editor in Chief, CountryWatch.com

 
Leave a comment

Posted by on March 27, 2011 in goresan semasa kuliah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: